Komp. Multi Sarana Plaza, Blok B No 5, Karangturi, Lumpur, Kec. Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61118

081216616559

Strategi Dakwah Hadlrotusy Syaikh

Setiap Guru Mursyid/Pemimpin tentu memiliki ciri khas masing-masing. Begitu juga dengan Hadlrotusy Syaikh Achmad Asrori Al Ishaqy r.a memiliki keistimewaan dalam berdakwah membimbing ummat.

 

Terdapat tiga metode yang ditempuh oleh Hadlrotusy Syaikh r.a secara bertahap dan berkesinambungan, sebagai berikut :

 

1. Uswah Hasanah; memberi dan menjadi suritauladan yang baik selama puluhan tahun secara istiqomah berupa wujud amal yang bersifat praktis: Dzikir Qadiriyyah/ Jahriyyah, Dzikir Naqsabandiyyah/ Khafiyyah dan Majlis Haul/Dzikir, Majlis Khatmil Qur’an, Majlis Maulid Nabi saw, Majlis Manakib Sulthanul Auliya al Syaikh Abdul Qadir al Jilani, serta Shalat Maktubah, Shalat Sunnah beserta wirid dan do'a.

 

Allah swt, berfirman:

 

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

 

Dalam ayat yang lain ditegaskan:

 

وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِیقَةِ لَأَسۡقَیۡنَـٰهُم مَّاۤءً غَدَقࣰا.

 

وقال أيضا: وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰۤ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوۡا۟ لَفَتَحۡنَا عَلَیۡهِم بَرَكَـٰتࣲ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ. 

 

2. Majlis Ilmu, mengadakan pengajian untuk menambah wawasan sekaligus penguat hujjah (argumentasi) tasawuf dan thariqah dengan berlandaskan Alquran dan Al hadis serta dalil-dalil Ulama sebagai penguat dan pemantapan serta penggerak amaliah-amaliah thariqah yang dilakukan secara istiqamah. Termasuk berdirinya Pondok Pesantren al Salafi al Fithrah di berbagai daerah dan saat Majlis Haul selalu terdapat mau’idzatul hasanah adalah bentuk perhatian Hadlratusy Syaikh terhadap ilmu pengetahuan.

 

3. Karya Ilmiah, menyusun Kitab yang bertemakan tasawuf tarekat sebagai pegangan dan pedoman seseorang dalam meniti jalan menuju kehadirat Allah swt, seperti Kitab al Muntakhabat Fi Rabithatil Qalbiyyah Wa Shilatir Ruhiyyah. Termasuk juga menyusun kitab-kitab berkenaan amaliyah thariqah, amaliyah yaumiyyah dan majlis dzikir: Hal ini sesuai dengan berbagai kitab yang telah dikemas/disusun dalam kitab al Fathatun Nuriyyah dan kitab-kitab yang sesuai dengan fungsinya masing-masing.

 

Ada satu nasehat Al Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumiddin yang penting untuk direnungkan, menurutnya: Manusia yang berakal sehat tentu orientasi kehidupannya (kelak saat meninggal) ingin dapat bertemu dengan Allah swt. Tidaklah ada sesuatu yang dapat menghantarkan manusia untuk dapat bertemu dengan Allah kecuali melalui pintu ilmu dan amal. 

 

Maksud daripada ilmu dan amal di sini adalah tentu yang diridlai Allah swt, bukan amal dan ilmu yang terdorong oleh hawa nafsu (kepentingan) duniawi.

 

*Nilai esensial Hadlrotusy Syaikh :*

 

Asas/pondasi merupakan perkara yang keberadaannya wajib ada. Sebab dengan asas itu semua perkara yang berada di atasnya menjadi kuat dan kokoh. Karena itu, sebagai muridin atau jamaah beliau r.a, tentu harus mengerti nilai-nilai esensial yang menjadi dasar daripada ajaran, tuntunan, serta bimbingan beliau r.a.

 

1. Husnul Khidmah. Meminjam istilah Syaikh Ibn. Al Mubarak; ادب الخدمة أعز من الخدمة , Etika berkhidmah (seorang pelayan) –dalam melayani—itu jauh lebih mulya, lebih berarti, lebih bernilai (di sisi Allah dan RasulNya) daripada khidmah (pelayanan) itu sendiri.

 

2. Mengambil pendapat atau melaksanakan pendapat dari yang baik menuju ke yang lebih baik, atau dari yang bersifat urgent ke yang lebih urgent, _Al Ashlah Fal Ashlah, Al Aham Fal Aham_.

 

3. Kebersamaan dan Bermusyawarah.

 

4. Penggalian potensi. Artinya, ada upaya untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memaksimalkan kemampuan atau sumber daya yang masih terpendam agar menjadi kekuatan nyata. Misalkan ungkapan Hadlrotus Syaikh r.a dalam buku pedoman: _Ajak bersama-sama dan posisikan serta dudukkan pada posisi dan kedudukan yang sesuai dengan ilmu, tenaga, keahlian, dan kemampuan mereka, secara lahir dan bathin._

 

5. Memudahkan, tidak mempersulit, _Yassiruu wa la tu'assiru wa basysyiruu wa la tunaffiruu_.

 

*Manhaj Kaderisasi*

 

 Hadlratusy Syaikh r.a dalam buku pedoman hal. 20 s.d 21 mengatakan: “Maka: *gugah, dorong, dan bangkitkan hati* para jama'ah, para pencinta serta para simpatisan dan masyarakat, lebih-lebih para penerus generasi muda kita, untuk merasa saling memiliki, menyayangi, menaungi dan melindungi “Jama'ah Al Khidmah” ini, dengan cara didik, ajar, tuntun dan bimbing dengan penuh kasih sayang, kearifan,kebijakan, kesabaran dan ketekunan yang mendalam, diiringi dengan: ajak bersama-sama dan posisikan serta dudukkan pada posisi dan kedudukan yang sesuai dengan ilmu, tenaga, keahlian, dan kemampuan mereka, secara lahir dan bathin. Dan lain-lain.”

 

*Prinsip pengelolaan al khidmah*

 

Sebuah organisasi akan mudah rapuh dan problematik bila fungsi dan tujuan tidak berjalan dengan baik. Buku pedoman hal. 28 mengingatkan: Tidak ada hal-hal apapun yang membedakan, dan tidak ada jarak-jarak apapun yang memisahkan di antara pihak-pihak yang terkait dan yang terikat. Ini merupakan pelajaran sekaligus tuntunan daripada Hadlratusy Syaikh r.a, bahwa kedudukan sosial atau jabatan penting dapat menjadikan seseorang lupa diri dengan jati dirinya sebagai jamaah. Sehingga boleh jadi seseorang karena telah lebih dulu menjadi murid sepuh, lebih dulu menjadi pengurus, lebih dulu mengenal dan dekat dengan Hadlratusy Syaikh r.a, maka ia tak mau belajar atau mendengarkan tuntunan atau nilai yang telah disepakati.

 

Akhinal karim! *Hijab paling besar* (keterdindingan kalbu/ruh) yang sulit untuk dihilangkan jika pada dirinya terjangkit penyakit merasa: 1. Merasa senioritas dan paling berjasa 2. Merasa paling bisa dan paling benar 3. Merasa cukup dengan Ilmu dan amalnya. Tiga penyakit ini adalah tiga hal yang berbeda tetapi saling berkaitan.

 

*PEREKAT JAMAAH*

 

Kebersamaan Suatu Jamaah Terbangun Dari 3 Komponen, NIAT – NILAI/ATURAN - PAHAM dan KEPATUHAN

 

1. Mempunyai niat yang sama

2. Menggunakan nilai yang sama

3. Paham dan tunduk pada aturan / tatanan organisasi

 

*Contoh Nilai Dalam Jamaah*

 

- Saat beliau r.a masih sugeng: Hanya satu nilai; mengikuti (nderek dawuh)

 

- Masa beliau r.a., wafat: ada dua nilai.

 

1. Mengikuti tuntunan beliau r.a., baik yang telah dicontohkan ataupun yang telah tertuang dalam buku pedoman.

 

2. Bermusyawarah pada setiap mengambil keputusan

 

*Sifat Ideal Dalam Jamaah*

 

1. Tujuan yang tulus, bersih dan suci, semata-mata berkhidmah.

2. Adanya kesungguhan dan kepatuhan yang jelas dan nyata.

3. Sifat pribadi kepada yang lain: cinta karena Allah dan benci karena Allah.

4. Sikap/perilaku yang baik, mulia, sejuk, manis, dan indah.

5. Arif bijaksana, rendah hati, toleransi, sabar dan tekun.

6. Jujur.

7. Terbuka.

8. Teduh dan tenang (tumakninah) namun tegas.

9. Konsisten (Istiqomah).

10. Peka dan sangat peduli terhadap sesama.

11. Lapang dan besar hati, menerima saran/kritik/usulan/yang bersifat membangun.

 

*Urgensi Klarifikasi*

 

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِینَ

 

Dalam kitab manakib al Faidhur Rahmani al Jilani, tepatnya pada bab ke 5, dinyatakan:

 

اياكم أن تحبوا او تكرهوه الا بعد عرض افعاله على الكتاب والسنة، كيلا تحبوه بالهوى وتبغضوه بالهوى.

 

_"Janganlah Kalian mencintai atau membenci orang lain, kecuali terlebih dahulu memperhatikan dan meneliti perilakunya, apakah sesuai dengan al Qur’an dan al Sunah? Yang demikian, agar cinta dan benci kalian tidak berdasarkan hawa nafsu semata."_

 

Pernyataan Kanjeng Syaikh di atas mengisyaratkan sikap kehati-hatian (wara/wirai) dalam mencintai atau membenci kepada perilaku yang lain.

Tergesa-gesa dalam menilai, mengomentari atau menghukumi keadaan seseorang atau bahkan mencintai atau membencinya adalah kesembronoan dan kebodohan. Hendaknya orang beriman mampu melakukan penelitian secara mendalam, *tabayyun* (klarifikasi) terlebih dahulu terhadap perilaku orang lain sebelum menjatuhkan sikap mencintai atau membenci kepadanya. Karena, boleh jadi perilakunya, yang kebetulan berbeda dengan perilaku kalian telah sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadis.

 

Begitu juga dengan sebuah informasi. Sebab, boleh jadi informasi itu tidak benar adanya, atau boleh jadi informasinya benar, namun salah memahami redaksi informasinya. Para ikhwan sekalian, tidak setiap perilaku orang lain, yang berbeda dengan perilaku kalian adalah pasti menyimpang daripada Alqur’an dan Sunnah. Sikap kehati-hatian inilah yang dicontohkan oleh pelaku thoriqoh, pelaku tasawuf, khususnya Hadlrotusy syaikhina KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy. Dengan sikap kehati-hatian maka kecil kemungkinan seseorang terjerembab pada kesalahan. 

 

Semoga berkat niat yang baik pada kesempatan ini, -- _bi barokati sayyidina, wa habibina, wa syafi’ina, wa maulana Muhammadin Saw, wa bi barokatil Jilani, wal Ishaqi—_ kita semua yang hadir tergolong orang-orang yang berhati-hati dalam bersikap kepada yang lain. Terutama bersikap kepada orang-orang saleh, kepada para ulama yang menjadi pewaris Nabi saw., serta orang-orang yang telah ditunjuk sebagai atasan kalian. Semoga dimudahkan dalam menyambut anugerah/keutamaan yang datang dari Allah swt. Aaamiin.

 

_Ahad, 12 April 2026._