Tuntunan Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy Ra. Untuk Pejuang Syiar Islam
Guru kita mendidik bahwa memperjuangkan tuntunan agama tidak cukup hanya meyakini bahwa yang diperjuangkan itu BENAR, tetapi harus melalui empat tahap akhlaq tasawuf:
1. Sesuatu yang BAIK: Memastikan apa yang diberikan ke ummat adalah hal yang baik, karena tidak semua yang benar itu pasti baik. Oleh sebab itu, dalam peribahasa Arab diungkapkan: _Likulli maqol maqom, wa likulli maqom maqol_.
2. Cara yang BAIK: Memastikan metode atau cara yang digunakan untuk syiar adalah cara yang baik, Bukan sekedar semangat, namun lupa dengan keBaikan Akhlak.
Dua poin pertama ini, kalau boleh meminjam istilah Syaikh Ibn. Al Mubarok dapat diringkas sebagai berikut:
ادب الخدمة أعز من الخدمة
Terjemah bebasnya; Etika seorang pelayan dalam melayani itu jauh lebih berarti, lebih bernilai (di sisi Guru, Rasulullah saw, dan Allah swt) daripada khidmah itu sendiri.
3. Diterima dengan BAIK: Upayakan agar apa yang diberikan bisa diterima dengan baik oleh ummat. Jika belum, maka perjuangan belum selesai. Artinya, melalui dua tahapan di atas: Pertama memastikan isi kontennya baik. Kedua cara yang ditempuh betul-betul baik. Jika belum, maka upaya perbaikan terhadap dua tahapan di atas harus terus dilakukan.
4. Menjadi BAIKNYA Ummat: Setelah semua cara baik dilakukan dan diterima, pejuang wajib terus berdoa dan bersujud secara diam-diam agar apa yang diterima tersebut benar-benar menjadi kebaikan bagi ummat. Artinya, pejuang tidak berhenti pada hukum sebab-akibat, tetapi ada usaha suluk (perjalanan spiritual) menuju Allah swt, yang ia lakukan tanpa mengesampingkan peran Rasulullah saw dan Para Guru sebagai wasail(perantara)
Perjuangan sesungguhnya adalah mencapai tahap keempat, yaitu bermunajat (berbisik, _sebo_) kepada Allah swt atas kebaikan ummat, dan memohonkan perlindungan atas keburukan yang menimpa ummat, serta memintakan ampunan atas perbuatan keji ummat.