Komp. Multi Sarana Plaza, Blok B No 5, Karangturi, Lumpur, Kec. Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61118

081216616559

Tutur Syekh Abdul Qadir lagi : ...

وَكَانَ يَقُوْلُ: إِيَّاكُمْ أَنْ تُحِبُّوْآ أَحَدًا أَوْ تَكْرَهُوْهُ إِلَّا بَعْدَ عَرْضِ أَفْعَالِهٖ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، كَيْ لَا تُحِبُّوْهُ بِالْهَوٰى وَتَبْغَضُوْهُ بِالْهَوٰى.

_Wa kâna yaqûlu: iyyâkum an tuḫibbû aḫadan au takrahûhu illâ ba’da ‘urdli af’âlihi ‘alal kitâbi was sunnati kailâ tuḫibbûhu bilhawâ wa tabghadlûhu bil hawâ._

Tutur Syekh Abdul Qadir lagi: Berhati-hatilah kalian! Jangan sampai mencintai atau membenci seseorang, kecuali setelah menimbang perbuatan-perbuatannya dengan ketentuan Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuannya agar kalian tidak menyukai atau membencinya karena hawa nafsu.
_______________________

Logika Keimanan: Membangun "Filter Ilahi"

di Tengah Badai Emosi
Di era di mana "suka" dan "tidak suka" hanya berjarak satu klik, emosi manusia telah menjadi komoditas yang sangat murah. Kita sering kali terjebak dalam lingkaran halo effect—memuja seseorang secara berlebihan hanya karena satu kebaikannya, atau melakukan cancel culture—menghujat seseorang habis-habisan karena satu kesalahannya.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, melalui untaian kalimatnya, menawarkan sebuah protokol penyeimbang: Objektivitas Syariat.

Penjara Hawa Nafsu dalam Kedok "Perasaan"

Syekh Abdul Qadir memperingatkan tentang al-hawa (hawa nafsu). Seringkali, apa yang kita sebut sebagai "cinta karena Allah" sebenarnya hanyalah ego yang sedang merasa nyaman, dan "benci karena Allah" hanyalah kemarahan pribadi yang dibalut jubah agama.
Tanpa sandaran Al-Qur'an dan Sunnah, perasaan kita hanyalah pantulan dari selera pribadi, trauma masa lalu, atau kepentingan sesaat. Mencintai berdasarkan hawa nafsu akan melahirkan fanatisme buta, sementara membenci berdasarkan hawa nafsu akan melahirkan kezaliman.

Al-Qur'an dan Sunnah sebagai "Laboratorium" Perbuatan

Menimbang perbuatan seseorang dengan Al-Qur'an dan Sunnah berarti kita berhenti menjadi hakim yang emosional dan mulai menjadi pengamat yang adil.
- Standar Tetap: Perasaan manusia berubah-ubah seperti cuaca, namun teks wahyu bersifat konstan.
- Pemisahan Subjek dan Objek: Kita diajarkan untuk menilai perbuatannya, bukan menghakimi eksistensi jiwanya.
Dengan menggunakan filter ini, kita bisa tetap menghargai kebenaran yang datang dari orang yang tidak kita sukai, dan berani mengkritik kesalahan yang dilakukan oleh orang yang paling kita cintai.

Moderasi Emosi: Menjaga Kewarasan Spiritual

Tujuan utama dari nasihat ini adalah agar hati kita tidak menjadi "budak" dari persepsi orang lain. Ketika cinta dan benci kita sudah terukur secara syariat, kita mencapai stabilitas batin. Kita tidak akan hancur saat dikhianati, dan tidak akan terbang tinggi saat dipuji, karena standar kebahagiaan kita tidak lagi diletakkan pada sosok manusia, melainkan pada ridlo ALLAH SWT yang menyelimuti interaksi tersebut.

Kesimpulan


Mencintai dan membenci adalah fitrah, namun membiarkannya liar tanpa kendali wahyu adalah bencana bagi jiwa. Syekh Abdul Qadir mengajarkan kita untuk meletakkan "akal syariat" di depan "perasaan", agar kita tidak menjadi orang yang tersesat justru di saat kita merasa sedang membela kebenaran.

Intisari dari kebijaksanaan Kanjeng Syaikh Abdul Qodir al Jilani di atas tidak hanya mengajarkan kita untuk tidak terburu² menghakimi orang lain yang menurut pandangan kita salah, tetapi juga sebagai pendidikan dan bimbingan untuk berhati² dalam mengomentari perilaku orang lain, mengajarkan klarifikasi serta mengajak beridialog sebelum menghakimi, dan paling pokok mengajarkan husnudzon (berbaik sangka) kepada yang lain. Sebab pintu masuk pertama menjadi kekasih Allah SWT adalah melalui berbaik sangka terhadap hamba Allah SWT yang lain.

Tags